Perbandingan Makna Kata Daijoubu (大丈夫) dan Kata “Tidak Apa-Apa” (Analisis Kontrastif)

Skripsi / Tugas Akhir Sastra Jepang
Penulis: Ita Masyita
Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin
Makassar
2015

Abstraksi

Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk mendeskripsikan makna-makna yang terkandung dalam kata Daijoubu (大丈夫) dan Kata “Tidak Apa-Apa” serta mengkaji persamaan dan perbedaannya. Penelitian ini mengkaji masalah makna yang difokuskan pada kajian kontekstualnya. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kontrastif. Data diolah dengan menggunakan metode analisis kontrastif dari segi analisis dan metode deskriptif dari segi penyajiannya. Dari analisis yang telah dilakukan diperoleh dua makna pada kata “Tidak Apa-apa” dan empat makna pada kata Daijoubu (大丈夫). Makna kata “Tidak apa-apa” adalah (1) Tidak Mengapa dan (2) Tidak Ada Sesuatu. Sedangkan makna kata Daijoubu (大丈夫) adalah (1) Shinpai Ga Nai (心配がない), (2) Anzen (安全), (3) Taishou Dekuru Jouken Ga Jubun De (対象出くる条件が十分で), dan (4) Tashika (確か). Makna yang paling banyak ditemukan pada data dari kata “Tidak Apa-apa” adalah makna (1) sebanyak 34 data dan makna (2) hanya terdapat 3 data. Sedangkan makna yang paling banyak ditemukan pada data dari kata Daijoubu (大丈夫) adalah makna (1) sebanyak 11 data, selanjutnya makna (4) ditemukan sebanyak 8 data, kemudian makna (2) terdapat 3 data, dan yang paling sedikit ditemukan adalah makna (3) hanya sebanyak 1 data. Ditemukan pula persamaan dan perbedaan antara kata “Tidak Apa-apa” dan kata Daijoubu (大丈夫). Makna (2), (3), dan (4) dari kata Daijoubu (大丈夫) tidak ditemukan persamaannya dengan makna kata “tidak apa-apa. Sedangkan persamaannya terletak pada makna (1) pada kata “Tidak Apa-apa” yang memiliki persamaan makna dengan makna (1) pada kata Daijoubu (大丈夫). Begitu pula dengan makna (2) dari kata “Tidak Apa-apa” yaitu “Tidak ada sesuatu” tidak ditemukan persamaannya pada makna dari kata Daijoubu (大丈夫).


Daftar Pustaka

日本語大辞典. (1995). Kyoto: Kodansha.
Sutedi, Dedi. (2003). Dasar-Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora Utama Press.
Soseki, Natsume. (1985). Botchan. Jepang: Kodansha.
Soseki, Natsume. (1978). Kokoro. Jepang: Shinco Bunko.
Richard, Jack. (1975). Longman Dictionary of Applied Linguistics. London: Nichi No Shingyou.
Peter, Salim. (1995). Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press.
Kridalaksana, Harimurti. (2008). Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta:
Konishi, Taniguchi. (2001). ジーニアス和英辞典. Tokyo: Taishukan.
Kikuo, Nomoto. (1988). Kamus Pemakaian Bahasa Jepang Dasar. Jakarta: Lembaga Bahasa Nasional Jepang.
Keraf, Gorys. (2004). Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. NTT: Nusa Indah.Gramedia Pustaka Utama.
Kenbou. (1981). 新焼結国語辞典. Tokyo: Saseido Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1990). Jakarta: Gitamedia Press.
Habiburrahman, El Shirazy. (2009). Ketika Cinta Bertasbih 2. Jakarta: Republika-Basmala.
Habiburrahman, El Shirazy. (2008). Ketika Cinta Bertasbih 1. Jakarta: Republika-Basmala
Habiburrahman, El Shirazy. (2004). Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Republika-Basmala.
Gustiana, Ririn. (2006). Analisis Makna Peribahasa Jepang yang Menggunakan Nama-Nama Hewan dan Padanan Maknanya dalam Peribahasa Indonesia. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Djajasudarma, Fatimah. (2009). Semantik I. Bandung: PT. Refika Aditama.
Djajasudarma, Fatimah. (1993). Metode Linguistik. Bandung: PT. Eresco Bandung.
Despraningsasi, Anggit. (2011). Analisis Kontrastif Bahasa Jepang dan Bahasa Jawa. Malang: Universitas Brawijaya.
Dee. (2009). Perahu Kertas. Bandung: Truedee Pustaka Sejati.
Chaer, Abdul. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Bonjinsha. (1999). Basic Japanese-English Dictionary. Jepang: Japan Foundation.
Aminuddin. (1985). Semantik. Bandung: PT.Sinar Baru.
Agustina, Nesa. (2014). Analisis Kontrastif Gitaigo Itami (Perasaan Sakit) dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Sunda. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.